07/02/14

Menemukan yang belum pernah ditemukan,

Sebuah testimoni dari Zulhiczar Arie untuk Proyek Pseudopartisipatif,

    Pada tahun ini, umur kami sama. Menyadari adanya sebuah kesamaan umur, saya merasa terpanggil untuk turut berkontribusi. Cemeti telah memberi saya pelajaran dan pengalaman yang berharga dalam proses berkesenian saya. Saya berangkat jauh sekali dari dunia seni rupa, namun semangat pencarian dan eksplorasi yang masih terus saya lakukan membawa saya pada titik ini. Titik eksplorasi yang telah jauh melampui batas, namun kenapa harus membikin batasan saat sebuah proses berkesenian terus membuka jalan akan kemungkinan-kemungkinan kerja yang kaya, yang bersifat kolaboratif, partisipatif, sampai investigatif yang inspiratif.

Kerja Video

    Dalam proyek ini, saya ditunjuk sebagai Videographer. Bergabung sebagai salah satu tim koordinator yang bertugas menangani seluruh jalannya proyek. Proses pendokumentasian adalah suatu hal yang sangat penting,  harapannya adalah memberikan seluruh gambaran proses yang tercipta selama proyek ini berlangsung. Sifat eksplorasi dan eksperimentasi yang ada di proyek ini terasa harus diabadikan setiap saat oleh bantuan alat-alat perekaman video dan audio. Dimulai dengan kunjungan studio tiap seniman, tahapan ini bertujuan memberikan gambaran awal bagaimana tiap partisipan memahami proposal yang telah ditawarkan. Pertemuan dan pertukaran gagasan serta bertambahnya koneksi menjadi hal yang sangat saya syukuri dengan adanya kunjungan studio ini. Pendokumentasian yang ada memang di kemas masih dengan gaya yang cukup konvensional, wawancara “talking head” yang dirasa cukup panjang memang menjadi kekurangan dari video kunjungan studio ini. Tapi memang itulah yang ingin disampaikan, satu bentuk cerita yang secara langsung bisa terjawab melalui bentuk wawancara. Yang kedua adalah presentasi investigasi tiap seniman.  Disinilah saya kira menjadi tahapan yang paling kaya dalam proyek ini. Gagasan-gagasan baru lahir dari proses investigasi yang tiap partisipan lakukan, kita tidak pernah membayangkan sebelumnya sebuah investigasi yang dilakukan secara bebas (tidak terikat aspek-aspek metodis penelitian) dapat menghasilkan temuan yang sangat inspiratif. Saya menyebutnya inspiratif karena kita serasa dibukakan kembali cara pandang yang baru dalam melihat bentuk-bentuk kesenian. Melalui proses ini saya bekerja juga belajar, saya menikmati jalannya proyek tapi juga jadi ikut memikirkannya.

Kerja Investigasi

Pikiran-pikiran yang berkecamuk di benak saya mendorong saya untuk ikut andil dalam proyek ini. Saya mencoba menjadi salah satu seniman partisipan yang juga mempunyai kewajiban menjajal kurikulum proyek. Tugas invetigasi terhadap bentuk kesenian yang dekat dan jauh harus saya lakukan. Namun tidak semata-mata secara spontan saya mencari objek investigasi yang saya anggap menarik, proyek ini membawa saya untuk menilik lagi ke dalam diri saya melalui kegundahan-kegundahan apa yang masih mengganjal selama ini. Hal inilah yang kemudian membuat proyek ini sebenarnya bersifat reflektif. Pemilihan objek investigasi, membuat kita memikirkan kembali dimana posisi kita di dalam dunia seni yang telah kita geluti. Dua pilihan apa yang jauh dan dekat sebenarnya masih sangat terkait dengan diri kita masing-masing. Saya meneliti bentuk komunitas film dan perkembangan-perkembangannya yang telah terjadi di Kota Yogyakarta. Walaupun penelitian tersebut belum menemukan satu titik kesimpulan, namun temuan-temuan yang saya dapatkan mengarah kepada hubungan kerja saya dengan pihak-pihak yang berada di lingkup komunitas film. Ketertarikan saya terhadap dunia seni rupa awalnya dipertemukan lewat teman-teman di Ace House Collective. Investigasi yang saya lakukan dengan berkaca pada cara kerja dan sistim berkarya teman-teman Ace House menghasilkan temuan mengenai generasi seniman sebagai pe-refleksi zaman.

Temuan-temuan yang saya dapatkan selama saya menjalani proyek ini, dari mulai meng-investigasi objek kesenian, dan meng-apresiasi kerja  investigasi tidak saya nikmati sebagai sebuah pencapaian sendiri. Temuan-temuan dari partisipan lain rasanya memperkaya pertemuan yang terjadi di proyek ini. Tentu saja kita menjadi belajar, kita bersama-sama menemukan hal yang baru. Investigasi yang pada awalnya diraba-raba ini ternyata dapat membuahkan temuan yang inspiratif, satu kesimpulan yang dapat dijadikan sebagai titik kita berangkat menghasilkan karya yang baru. Baru tidak hanya secara teknis atau gagasan namun juga lebih kepada metode dan cara berfikir.
 
25 tahun mungkin memang menjadi sebuah awalan baru dalam tahapan hidup seorang manusia. Layaknya manusia, Cemeti melalui proyek Pseudo Partisipative ini mempunyai semangat yang kuat untuk menemukan apa yang belum pernah ditemukan. Begitu pula dengan saya.

Generasi Seniman Baru, berkaca pada sistem bekerja dan berkarya kelompok Ace House Collective.

Oleh Zulhiczar Arie

    Memutuskan sebuah projek penelitian yang memiliki pilihan objek dan permasalahan di dunia seni yang cukup banyak adalah gampang-gampang susah. Bagi saya pribadi, pilihan objek dan apa masalah yang akhirnya diangkat harus memiliki tendensi dan kaitan yang kuat dengan peneliti-nya. Oleh karena itu, seorang peneliti harapan saya tidak akan memilih objek penelitiannya secara spontan. Apa yang ada harus terkoneksi dengan diri sang peneliti sehingga memiliki alasan jelas kenapa memilih objek tersebut sebagai bahan penelitiannya.

    Dalam kaitannya dengan wacana diatas, saya mencoba untuk melihat ulang proses berkesenian saya sehingga bisa meruntut lagi kegelisahan-kegelisahan apa yang ada di benak saya selama ini. Untuk akhirnya bisa saya angkat di dalam projek Pseudo Patisipative ini.
Perkenalan dengan dunia seni rupa.

    Pada masa kuliah dulu saya tergolong sebagai mahasiswa yang biasa-biasa saja, istilah kampusnya adalah mahasiswa kupu-kupu (kuliah-pulang, kuliah pulang). Pada waktu itu saya menjalani hobi bermain Skateboard secara serius. Hal itulah yang sebenarnya sampai sekarang kadang masih mempengaruhi proses berkarya saya. Kegilaan saya dengan skateboard tentu saja membuat saya mengenal apa yang disebut dengan “Skateboard Graphic”. Gambar-gambar ilustrasi dan desain yang ada dibawah papan skateboard menjadi patokan saya dalam dunia seni, khususnya pada dunia seni menggambar. Dari situ pula akhirnya saya coba juga membuat gambar-gambar yang berciri sama.

    Dengan ketertarikan terhadap isu diatas, saya juga coba melihat kemungkinan-kemungkinan lain yang ada di sekitar saya. Apakah ada seniman lain yang juga mempunyai kesamaan ide dan visual yang sama? Oh ternyata jawabannya ada. Namun hanya sebatas mengamati saja, saya belum berkenalan secara langsung. Hingga kemudian pada awal tahun 2011, sebelum saya lulus kuliah dari ISI Yogyakarta. Saya mempunyai projek bersama Ican Harem (Ican dikenal sebagai Hypster yang juga memilih Skateboard sebagai salah satu andalan ia berkarya) yang membawa saya berkenalan dengan teman-teman yang tergabung di sebuah grup seniman muda super keren bernama Ace House Collective.

Ace House Collective

    Secara kasat mata, Ace House Collective adalah sekumpulan seniman-seniman muda nan enerjik yang mempunyai gaya berkarya yang sangat keren, karya-karya mereka sangat mencerminkan budaya pop dan anak muda, rasanya tidak ada duanya yang berkarya dengan gaya-gaya semacam ini. Itu adalah kesan pertama yang saya dapatkan dari mereka. Gaya berkarya mereka membuat saya sangat terinspirasi dan tanpa pikir panjang menyetujui bahwa inilah gaya berkesenian yang akan saya pilih juga. Berikut sedikit informasi yang dikutip dari website mereka,

“ACE HOUSE adalah laboratorium seni yang terbentuk dari gabungan beberapa seniman muda era 2000-an, atas dasar kesamaan pemikiran dan ide dalam berkarya serta latar belakang pola berkesenian yang sama. Konsisten pada gaya visual popular dan konsumerisme visual yang berkembang seiring pengaruh budaya anak muda. Seperti musik, poster, kartun, film, toys, skateboard,  bike culture, grafitty, dan komik. Kami meyakini budaya populer sebagai resistensi dan sumber utama dalam berkarya. Dan merupakan respon terhadap perkembangan arus informasi dalam wacana seni rupa global. Dimana kami lahir dan hidup didalamnya. Fenomena ini yang meyakini kami, bahwa kesenian tidak sebatas berkarya dalam ruang studio saja, namun juga persilangannya dalam disiplin ilmu lain.”

    Seniman-seniman yang tergabung di kelompok Ace House ini adalah para seniman muda angkatan 2000-an lulusan FSR ISI Yogyakarta jurusan grafis, lukis, dan DKV ISI Yogyakarta. Sebut saja nama seperti Diki Leos, Iyok Prayoga, Hendra Hehe, Hendra Blankon, Ahmad Oka, Gintani NA, Uji Hahan, dll. Sebenarnya pada awal-awal masa berkenalan dulu, saya masih berada di posisi yang kagum dengan menjadikan teman-teman di Ace House ini sebagai inspirasi lokal saya dalam berkarya. Tentu saja karena faktor mereka lebih dulu berkarya dan konsistensi mereka dengan gaya visual tersebutlah yang akhirnya menjadikan mereka sebagai “idola”.

    Pada tahun-tahun itu (2011-2012), saya tidak sendirian mentasbihkan teman-teman di Ace House sebagai kiblat saya berkarya secara visual. Untungnya saya menemukan teman lain seperti Ican Harem (bahkan dulu termasuk salah satu anggota Ace House) lalu ada Ryan Ady, Eki Firmansyah, Galang Rais, Andika Gondrong, Okta Samid, Sofyan Brojol, Dika Ojek, dll sebagai teman seangkatan saya dalam berkarya. Kami pernah beberapa kali telibat dalam satu grup pameran atau membuat projek iseng-suka-suka.
    
Seiring berjalannya waktu saya menjadi sangat intens bekerja sama dengan teman-teman di Ace House Collective, salah satunya adalah ajakan mereka kepada saya untuk menjadi kolaborator video di projek parallel event Bienalle Jogja XI “Takada Rotan Akar Punjabi”. Dari situ pula akhirnya saya sekarang kecemplung di dunia seni rupa yang penuh kabut dan misteri berjuang mencari titik terang. 
Kemudian pernah suatu ketika saya mengobrol dengan Mbak Gintani, dengan inti mengenai keberlanjutan generasi seniman, pertanyaan saya pada waktu itu adalah “Kenapa seperti ada jeda yang panjang antara seniman-seniman dengan gaya visual Ace House ini dengan seniman-seniman muda sekarang??” Jeda ini ada dari tahun 2000-an hingga sekarang memasuki tahun 2010-an. Pertanyaan iseng tersebut tidak langsung tejawab pada waktu itu, mungkin cuma dianggap sebuah guyon saja. Namun sebenarnya pertanyaan itu masih terngiang dan akhirnya saya coba utarakan melalui projek Pseudo Partisipative ini.

Investigasi
Berdasarkan pertanyaan diatas, saya memulai proses investigasi ini. saya tidak serta merta meneliti objek tersebut. Melainkan saya malah memulai untuk memberikan pertanyaan yang mempunyai relevansi dengan objek tersebut.  Proses investigasi ini akan saya bagi menjadi beberapa cerita dengan sub-judul yang berbeda, yang semoga bisa menuntun proses ini ke bentuk-bentuk temuan baru dan pertanyaan-pertanyaan tambahan yang menantang.

Sejarah dan awal perkuliahan jurusan seni rupa murni tahun 2000-an.

    Cerita ini saya dapatkan di wawancara pertama bersama Uji Hahan dan FA Indun di studio Hahan di daerah Nitiprayan. Saya mencoba mengawali proses investigasi ini dengan mendengar cerita-cerita mereka di masa kuliah, yang di kemudian hari dapat membentuk gaya bekerja dan berkarya mereka seperti sekarang. Tahun 2000-an adalah masa transisi kepindahan kampus ASRI Gampingan ke kampus terpadu ISI di Sewon. Ini membuat kampus ISI masih cukup bebas digunakan untuk kegiatan mahasiswa. Hahan dan Indun bercerita bagaimana dulu mereka masih tinggal di kampus, tidur di studio, beraktifitas bersama di kampus tanpa ada beban.
Kuliah dan berkarya dijadikan keseharian mereka, diskusi, obrolan dan saling tukar ide menjadi hal yang tak pernah luput dalam keseharian mereka. Hingga suatu saat mereka pernah membuat satu pameran bersama di rumah seorang temannya yang bernama Billy, dari pameran itu pula saya mendapat cerita bahwa memang pada awal mereka berkarya mereka tidak pernah memikirkan apa timbal balik atau apa yang mereka kejar dalam berpameran. Yang utama adalah berkarya saja menurut apa yang mereka sukai, baik secara gagasan ataupun visualnya. Pada masa-masa kuliah tersebut gaya bekerja bersama secara kolektif sudah mulai terbentuk, karena mempunyai kesamaan inspirasi, hobi dan pilihan visual serta perasaan sepenanggungan hidup akhirnya dapat menuntun mereka ke dalam bentuk karya dan cara kerja seperti sekarang.
Generasi Juxtapoz dan Low-Brow Art.

Setiap generasi seniman seharusnya mencerminkan jamannya. Setiap angkatan mahasiswa seni harusnya memberikan satu pandangan ideologi dan visual tertentu untuk merefleksikan ciri angkatannya, itulah yang saya dapatkan dari dua wawancara yang berbeda bersama seniman senior Agung Kurniawan dan juga salah satu anggota Ace House, Gintani NA. Namun dari dua wawancara tersebut saya juga menemukan dua fakta yang berbeda, namun masih terjalin oleh satu kesamaan. Inspirasi berkarya mereka adalah majalah juxtapoz yang dibuat oleh seniman Robert Williams asal kota San Fransisco USA, tidak hanya itu sumber-sumber dari internet, blog, webzine dan beberapa artwork cover kaset juga menjadi panutan mereka. Saat berbicara mengenai generasi Juxtapoze, topik ini rasanya sangat lekat sekali dengan gerakan seni Low Brow pada tahun1970-an. Dikutip dari tulisan Rifky Effendy di katalog pameran “Finding Me” di Semarang Contemporary Gallery, ia menyebutkan bahwa

    “Lowbrow dikenal pula sebagai pop-surealism. Istilah Lowbrow Art muncul dalam gerakan seni bawah tanah, berbareng dengan komik underground dan musik punk, di Los Angeles, 1970-an, sebagai ekspresi perlawanan terhadap kultur yang mapan dan cara pandang hegemonik. Ciri-cirinya: santai, hibrid, satir, acap dengan rasa humor kelam dan komentar-komentar banal. Itulah mengapa ia disebut ’seni rendah’.

 Agung Kurniawan mengatakan bahwa seniman generasi Hahan hanya meniru bentuk visual dari seniman-seniman bergaya Low Brow yang ada di majalah Juxtapoze, tanpa melihat secara ideologis apa yang terkandung di dalam muatan gerakan seni Low Brow. Menurut Agung Kurniawan sendiri gerakan tersebut adalah salah satu bentuk perlawanan atau antitesis dari karya-karya High Art yang berkembang di Amerika dan Eropa. Low Brow melawan sifat karya High Art yang eksklusive hanya untuk kalangan pasar tertentu saja. Karya lukisan, patung, instalasi dsb dilawan oleh seniman-seniman underground dengan membuat karya yang murah berbentuk ilustrasi, drawing, komik, animasi yang dapat dijual murah di dalam satu komunitas.  Berikut salah satu petikan wawancara dari Agung Kurniawan;

“Sedangkan lowbrow melawan semua itu, mereka ingin merombak segala sistem yang ada di bentuk seni rupa high art. Mereka mencoba berpameran sendiri, membuat bentuk2 media sendiri, berpameran di jalan, membuat media, blog, web, dll. Sebenarnya itu mempunyai satu kekuatan besar yang sangat politis. Mereka (kaum lowbrow) melawan komersialisasi seni tinggi, dengan membuat karya seni (lukisan, dll) dengan murah, berbasis karya ilustrasi. Karya seni bersifat ilustratif mempunyai kecenderungan untuk bercerita, disebut sebagai seni rendahan karena tidak bisa berdiri sendiri. Kebanyakan terdapat unsur naratif. Karena basic nya dari komik, kartun, animasi, dll. Hal ini sebenarnya sangat melawan konsepsi seni rupa tinggi yang ada, dan semuanya terangkum menjadi satu di majalah juxtapoze. “
“Teman-teman seniman angkatan Hahan meniru dan mengikuti kecenderungan berkarya seperti diatas. Akan tetapi, mereka hanya menirunya secara visual saja. Tidak terlalu jauh memahami konteks ideologinya. Mereka lupa untuk meniru ideologi-nya. Kelompok low brow ini, kalau di Eropa dsebut dengan Brutal Art atau Art Brut. Mereka benar-benar tidak peduli dengan konsepsi seni, artinya bahkan mereka tidak perlu sekolah untuk menjadi seniman. Karena tinggal membuat sesuatu dengan bentuk yang bebas, sudah bisa menjadi karya seni. Low brow art bisa dibilang adalah bentuk karya seni yang paling hybrid. Karena bisa mencampur adukkan bentuk-bentuk seni rupa apa saja. “
“Sifat-sifat kelompok lowbrow sebenarnya sangat crafty, artinya mereka memilih untuk mengedepankan skill manual mereka dalam berkarya. Dan ini juga adalah satu bentuk perlawanan terhadap industrialisasi seni, yang mengedepankan artisan, bantuan galeri, art fair, kolektor, dsb.  Di Indonesia, hal tersebut ternyata sangat berlawanan terjadi. Karena mereka tidak meng-copy ideologi low brow, seniman-seniman di Jogja malah terjebak pada bentuk industrialisasi seni itu sendiri. Contohnya seseorang yang ingin berpameran tunggal harus bekerja dengan artisan. “

    Pendapat Agung Kurniawan diatas tidak disetujui oleh Gintani NA, sebagai salah satu anggota Ace House yang beberapa kali memberi pengantar tertulis mengenai Ace House, ia menyangkal pendapat tersebut. Pelabelan gaya Low Brow yang akhirnya melekat pada seniman-seniman Ace House sebenarnya adalah penilaian secara perspektif di luar Ace House itu sendiri. “Ini adalah pelabelan yang dilakukan pasar untuk memetakan bentuk visual apa yang telah kami kerjakan ini” begitu pendapat Gintani. “Pendapat kami sendiri, kami tidak pernah menganggap diri kami ini adalah seniman Low Brow-nya Indonesia, kami berkarya ya tinggal berkarya saja. Kalau kebetulan bentuk visual dan inspirasi nya sama ya memang itulah pilihan kami. Tapi mengenai pelabelan itu kami tidak begitu setuju.” Hal tersebut mungkin juga terpengaruh karena pada masa-masa kuliah dan karya-karya seniman Ace House masuk ke Pasar seni rupa meraka tidak mempunyai statement yang mengatakan bentuk generasi apa mereka ini? alasan dari Mbak Gintani karena kita tidak punya penulis pada waktu itu, kita hanya sibuk berkarya tanpa pernah berpikir kita ini seniman apa? Melanjutkan pembicaraan dalam topik ini, teman-teman Ace House berpendapat bahwa karena memang tidak mungkin kita ini berkarya dengan ideologi Low Brow. Akhirnya di Indonesia ideologi ini cuma mentok sebagai bagian dari lifestyle, seperti ideologi Punk di Indonesia yang hanya menjadi fashion belaka.  Gaya Low brow bak Gaya Punk hanya sebatas dikonsumsi secara visual saja.
Dibentuknya Ace House Collective.

    Dalam rentang waktu taun 2002/2003 hingga tahun 2011, posisi seniman yang tergabung di Ace House Collective ini menurut Gintani bisa dibilang belum stabil. Cara bekerja mereka walau kadang saling membantu satu sama lain, bekerja dalam satu projek bersama, terlibat dalam satu pameran bersama namun juga tiap individu-nya mempunyai karir berkarya masing-masing. Seperti masih mencari identitas dimana sebenarnya posisi berkarya seniman-seniman ini. Pelabelan dari luar yang menge-cap mereka sebagai seniman Low Brow Indonesia pun akhirnya menjadikan mereka untuk berpikir kedepan dengan membentuk sebuah kerja kolektif yang disebut dengan Ace House. Kesamaan visi, asal, inspirasi dan gaya visual juga mereka jadikan landasan utama dibentuknya kelompok ini. Kerinduan-kerinduan untuk bekerja bersama lagi seperti pada jaman-jaman kuliah dulu yang mengedepankan kekompakan bersama, dan tidak mau nya mereka di cap dengan stigma tertentu juga menjadi hal yang paling utama dibentuknya kelompok ini. Mereka ingin mencoba melabelkan identitas mereka sendiri dengan dibentuknya Ace House Collective ini.

    “Jika ditanya kenapa akhirnya Ace House terbentuk, ini sebenarnya bersifat reflektif. Artinya memang pada masa-masa booming seni rupa tahun 2007 itu memiliki impact yang sangat besar bagi kita. sehingga ini membuat kami di masa sekarang ini ingin melihat kembali posisi kami di dunia seni rupa” begitu sepenggal pernyataan dari Mbak Gintani.  Dengan adanya kelompok ini kita juga bisa mengangkat individu-individu yang ada didalamnya, sehingga harapannya kita bisa maju dan berkembang bersama. Ada hal yang cukup menarik dikatakan oleh saudara Uma Guma, konsep dibentuknya Ace House sendiri seperti menolak ideologi modernis yang mengedepankan konsep individualisme. Pada jaman yang serba self-service seperti sekarang ini, kehadiran sebuah kelompok seharusnya malah sudah banyak ditinggalkan. Namun kenyataanya kita malah kembali ke habitat kita, ke dalam kelompok yang melahirkan kita untuk bisa maju bersama.
Sistem bekerja Ace House Collective.

    Dulunya konsep bekerja kelompok ini masih sebatas ke dalam bentuk kerja sama untuk membuat pameran bersama, atau kerjasama secara teknis seperti membuat mural bersama. Namun pada perhelatan Bienalle Jogja XI kemarin konsep bekerja kelompok ini untuk pertama kalinya berbeda. Dalam pandangan saya, mereka menerima konsep wacana yang ditawarkan oleh pihak Jogja Bienalle. Yang kemudian melalui Ace House direspon ulang menggunakan kaca mata mereka sendiri untuk menelurkan bentuk karya baru. Konsep kerja kolektif kolaboratif antar seniman yang tergabung di dalam Ace House ternyata dapat menghasilkan bentuk karya yang baru, dan hal ini ternyata masih menjadi bahan penggodokan di internal kelompok Ace House sendiri. Sehingga harapannya dapat menemukan satu formula yang tepat sebagai bentuk pengkaryaan kelompok Ace House Collective. Berikut satu petikan dari profil Ace House yang saya dapatkan dari Mbak Gintani.

    “Secara internal membangun kesadaran atas entitas kerja kekaryaan kami. Sebagai ruang dalam arena produksi visual dan tekstual. Dengan membangun kerja kolektif melalui projek dan program yang kami inisiasi bersama, diharapkan dapat menguatkan per individu yang tergabung dalam kelompok ini. Semangat gerakan ini didorong atas keinginan untuk sebuah pencapaian yang lebih dari sekedar pencapaian individu didalamnya. Hasil akhir dari sebuah eksekusi karya kelompok ini telah mengalami proses kurasi dan brainstorming dengan semua anggota dengan format focus group discussion, hasil tersebut kemudian di proses dan dibagi lagi menjadi tim kecil sesuai dengan ketertarikan dan spesifikasi masing masing. Awal inisiatif pembentukan kelompok ini karena ketertarikan dan intensitas pada tema, narasi, serta pencapaian estetik budaya visual populer (lebih merujuk pada definisi dalam ranah budaya anak muda/youth culture). Sebuah gerakan budaya yang kami yakini membawa semangat terhadap sikap dan gaya berkesenian kami. Kesadaran berkesenian inilah yang akhirnya mempertemukan dan mendasari kami membentuk ace house collective.”

Tentu saja bentuk pengkaryaan kolektif Ace House juga sangat berbeda dengan pengkaryaan tiap personalnya, dan menurut saya menariknya disini. Bayangkan saja dengan modal gagasan dan estetik yang berbeda dari tiap personalnya dapat menghasilkan bentuk karya lagi yang berbeda. Mereka menjelaskan, karya-karya yang tercipta dalam lingkup kerja Ace House dapat meleburkan ciri personal per senimannya. Dalam bentuk karya Ace House kita tidak dapat mendeteksi, siapa sebenarnya seniman yang berada di balik karya tersebut. Itu artinya proses kolaborasi di dalam Ace House sekarang ini bisa dibilang cukup berhasil. Sebagai contoh, dalam satu karya saja, kerja kolektif telah mereduksi ego masing-masing dari si seniman, setiap seniman di Ace House jelas mempunyai karya personal. Namun saat menjadi satu karya bersama, karya tersebut menjadi sangat berbeda dari seniman masing-masing. Dalam kasus ini kesamaan ideologi adalah kekuatan dari proses berkarya kelompok Ace House.

Generasi Seniman Baru

    Kembali ke wacana seniman merefleksikan jamannya, para seniman yang tergabung di Ace House Collective ini adalah sebuah refleksi yang paling tepat untuk mewakil generasi tahun 2000-an. Inspirasi-inspirasi berbasis teknologi informasi, seperti internet, kartun, animasi, komik, video game, dsb menjadi sumber kekuatan mereka berkarya. Berbeda sekali jika dibandingkan dengan generasi 70-an dengan Gerakan Seni Rupa Baru-nya yang mengkritik eltisme seni, generasi 80-an dengan surrealisme-nya bahkan generasi 90-an dengan kritik reformasi-nya. Saat ditanya kenapa angakatan 2000-an ini minim kritik sosial, Gintani menjawab “ Ya karena pada tahun-tahun itu sudah memasuki era pasca-Reformasi, kita sebenarnya ingin ikut serta dalam sebuah pergerakan, namun apa daya pada tahun itu sedang masa reda. Artinya malah lucu kalo tiba-tiba kita bikin gerakan yang lain.” Angkatan 2000-an ini menurut mbak Gintani juga terus dipertanyakan, bahkan dijadikan kambing hitam karena minim kritiknya. Yang pada akhirnya ada yang menyebutnya sebagai generasi Selebrasi.  Hahan menambahi, pada masa-masa itu kita dikenalkan dengan konsep gaya berkarya yang fun oleh Mas Eko Nugroho, “Ya berkarya itu ya bisa kok dibuat untuk bermain-main, gak melulu harus mengkritik” nah dari situ pula sepertinya teman-teman Ace House meng-iya-kan pernyataan tersebut dan masih terbawa sampai sekarang. Pada masa-masa itu pula, teman-teman yang tergabung di Ace House ini juga merasakan riuhnya bekerja dan belajar di ruang-ruang alternatif yang ada di Jogja, sebut saja Kedai Kebun, Cemeti, Mes 56, Yayasan seni Cemeti (sekarang IVAA) dll. Mereka merasakan bagaimana mereka berkembang bersama di ruang-ruang tersebut. Sebagai sekumpulan mahasiswa seni di tahun 2000-an, proses pembelajaran di ruang-ruang tersebut menjadi pelajaran yang sangat berharga.

Angkatan 2000-an ini juga seperti meng-halal-kan mitos generasi 10 tahun-an seniman Jogja. Pengaruh Booming seni rupa pada sekitar tahun 2007-an  juga membuat generasi ini bisa bertahan sampai sekarang. Usut punya usut, booming seni rupa yang terjadi pada tahun itu ternyata memiliki banyak dampak di perkembangan seni rupa sekarang. Menurut Agung Kurniawan, dengan adanya booming tersebut telah menghasilkan generasi baru pembeli lukisan (kolektor), cara pandang kolektor di Indonesia juga berubah mengikuti arus perkembangan seni rupa yang ada. Banyak kolektor muda yang juga mempunyai kesamaan cara pandang (insiprasi visual) terhadap karya seni kontemporer. Itulah mengapa karya-karya seniman Ace House juga bisa mendapat tempat di pasar seni rupa. namun imbas negatif dari boom tersebut menurut Agung Kurniawan adalah seperti membuat sebuah perusakan yang membuat hilangnya sebuah ciri angkatan. Semua karya seni menjadi seragam.
Oleh karena itu, pada masa-masa sekarang sebenarnya akan menjadi tahun-tahun penantian dari delay-nya sebuah generasi baru seni rupa. Asumsi saya mengatakan apakah teman-teman seangkatan saya yang sudah saya sebutkan diatas, sebut saja seperti Ryan Ady, Galang, Eki, Brojol dll itu bisa disebut generasi perupa jaman sekarang? Tapi mengacu kepada gaya berkarya yang hampir sama dengan teman-teman di Ace House, apakah ini bisa dikatakan sebagai generasi baru? Seperti apa kira-kira bentuk, inspirasi, dan kritik yang diutarakan pada generasi sekarang? Seperti kata Mas Eko Nugroho sepertinya akan tepat jika disebut sebagai Generasi Mubal.

tulisan ini bagian dari laporan artistik investigasi yang saya lakukan di dalam proyek Pseudopartisipatif 2013 di Cemeti Art House. 

Peeking The Personal Memory (Story and Concept)

Halo 2014,

Ini tulisan mengenai karya video instalasi yang saya buat tahun 2013 kemarin, karya ini cukup terinspirasi dari entry tulisan saya sebelumnya mengenai film "This Ain't California". Saya sedang sangat tertarik dengan persinggungan antara medium analog dan digital, serta cara-cara untuk memanipulasi dua hal tersebut dengan isu dan kondisi dijaman sekarang.

Mengintip Ingatan Personal
Peeking The Personal Memory

“I can’t remember everything but, pictures did”
-anonymous-


“Kecanggihan teknologi ternyata takselalu menghasilkan hal-hal yang baru, kita masih saja rindu dengan masa lalu”

Memori (ingatan) adalah rekaman, baik rekaman yang tertanam didalam benak kita atau yang telah terabadikan dalam perangkat-perangkat media rekam, khususnya perangkat foto, video atau film. Memori bersifat temporal, kadang dalam sebuah perjalanan hidup memori-memori tersebut tidak mudah untuk diungkapkan. Sebagai seorang manusia, sifat lupa dan ingat akan selalu ada. Namun memori yang paling bisa kita ingat adalah memori akan peristiwa yang menyenangkan, peristiwa-peristiwa yang kita anggap menarik untuk direkam. Seperti rekaman perjalanan, momen spesial, ulang tahun, perkawinan, dll. Kehadiran perangkat perekam sangat membantu menyusun ingatan kita baik dalam bentuk foto, video, tulisan, blog, diari atau apapun.

Saat ini, telepon seluler (handphone) sudah menjadi bagian dari diri kita yang tak dapat dipisahkan lagi. Dengan kecanggihan fitur kamera, aplikasi-aplikasi dan jaringan sosial media membuat handphone menjadi barang yang sangat personal, sarana paling dekat dan paling cepat untuk mengabadikan kisah-kisah disekitar kita. Kecanggihan dan fitur-fitur yang ada di dalam handphone membuat kita bisa dengan mudah mengungkapkan ingatan-ingatan lama kita. 

Dalam projek ini, saya mencoba memaknai kembali rekaman-rekaman peristiwa yang telah terabadikan melalui kamera handphone. Dengan akal-akalan efek kamera 8 mm yang terdapat di handphone, saya selalu merekam segala aktifitas yang saya senangi dan menurut saya penting untuk direkam dari akhir tahun 2011 hingga awal 2013 ini. Kemudian saya memcoba mengklasifikasikannya menjadi 3 seri video yaitu (i) ontheway series, (ii) skating series, dan (iii) happening series. Ketiganya mempunyai pemaknaan yang berbeda dalam melihat ingatan-ingatan saya di masa lampau. Kecanggihan teknologi ternyata takselalu menghasilkan hal-hal yang baru, kita masih saja rindu dengan masa lalu. 

Karya ini mencoba merefleksikan ingatan-ingatan seorang manusia, yang jarang diungkap melalui medium video. Bentuk akal-akalan visual menggunakan efek film seluloid 8 mm membuat seakan-akan kita sudah resmi merayakan ingatan-ingatan masa lalu.

Instalasi
Kerinduan-kerinduan dengan masa lalu membuat saya ingin menampilkan karya ini lewat satu instalasi yang berjudul “Peeking the Personal Memory”. Saya ingin membuat instalasi berbentuk kotak viewfinder kamera dimana orang-orang dapat mengintip 3 seri video yang akan saya putar diatas. Instalasi tersebut akan disusun menjadi satu di dalam sebuah box yang juga berisi sebuah proyektor. Selain 3 viewfinder yang akan menampilkan 3 video series tersebut, nantinya di lubang yang ke empat akan ada proyeksi dari video ini yang akan terpancar keluar ke tembok.

Instalasi ini mencoba membuat sebuah muslihat mengenai ingatan masa lalu kita saat kamera video/film belum mempunyai fitur layar LCD. Saya mencoba membuat orang agar mengintip ke dalam viewfinder untuk melihat karya video ini, namun juga ingin membuat seakan-akan seperti sedang merekam ingatan mereka dan memancarkannya kembali lewat proyektor.

Karya ini sempat dipamerkan di
OK Video. Jakarta International Video Festival. National Gallery Jakarta Indonesia
Spot Art. Parallel event Singapore Bienalle 2013. MiCA Building. Singapore



english version

Peeking the Personal Memory

“I can’t remember everything, but pictures did”
“Sometimes you will never know the value of a moment untill it becomes a memory”

-anonymous-

“In fact, the advancement of technology is not always making something new, we’re still longing our past.”

Peeking the Personal Memory is a Video Installation that converts the physical image of the act of recording, watching, and sharing private documentation, which always happen in virtual world.

Memory is a record, which is either embedded in our mind or eternalized in recording media devices. Memory is temporal, sometimes in our live, it’s hard to express.

Nowadays, the presence of recording devices is very helpful to arrange our memory in the form of photo, video, text, blog, diary or etc. Handphone/smartphone, becomes an inseparable part of ourselves. With the advancement of camera feature, applications and social network media, handphone becomes very personal thing, closest and fastest media to eternalize events around us. Evenmore, it’s change consumer behavior in documenting practices as well.

In this project, I try to re-interpret recorded events eternalized in handphone camera. By outsmarting effect of 8 mm handphone camera, I always record every activity I like and important to record from the end of 2011 until this early 2013. Then, I try to classify to be three videos which are (i) on the way series, (ii) skating series, and (iii) happening series. All of them have different interpretations in looking my memories in the past. In fact, the advancement of technology is not always making something new, we are still longing our past.

This work tries to reflect human memories that are rarely to express by means of video. A kind of outsmarting visual by using film effect celluloid as if we officially celebrated memories in the past  

Installation

Longing of past makes me want to display this work through a video installation work entitled “Peeking the Personal Memory”. The will to share documentation openly should ready to accept a consequent of access from the unknown. So sometimes the public will create their own personal limitation. I want to make installation in the form of view finder box camera in which people can peek the three videos I will play.

The installation will be arranged to be united in a box which also contains a projector. Besides three view finder box cameras which will display the three serial video, then in the fourth hole, there will be projection of these videos displayed on the wall.  

This installation tries to make a trick about our past memories when video or film camera has not have LCD screen feature yet. I try to make people to peek into view finder box camera to look this video work and also I want to make as if people were recording their memories and displaying through projector. 


This work has been exhibited at

OK Video. Jakarta International Video Festival. National Gallery Jakarta Indonesia
Spot Art. Parallel event Singapore Bienalle 2013. MiCA Building. Singapore

click on the image to see the videos preview


click on the image above to see the video previews :)